Sabtu, 16 Desember 2017

Budaya nyongkolan: mencintai adalah cara melestarikan budaya

       Budaya adalah identitas yang dimiliki oleh suatu daerah yang mempunyai ciri yang berbeda. Contoh, di pulau Lombok terdapat sistem pernikahan yang berbeda dengan daerah lain. Dalam sistem pernikahannya terdapat prosesi yang dikenal dengan nyongkolan. Nyongkolan merupakan sebuah proses kegiatan yang dilakukan oleh sepasang pengantin pasca akad nikah. Hal tersebut sudah menjadi tradisi yang berbudaya di tengah kalangan masyarakat suku Sasak sejak jaman dahulu dalam melakukan pernikahan. Proses nyongkolan pada hakekatnya, bertujuan untuk “mengumumkan” kepada masyarakat bahwa orang yang disongkol tersebut sudah memiliki pasangan hidup untuk selamanya. Selain itu juga, untuk menjaga dan melestarikan budaya dan tradisi suku yang sudah ada sejak jaman nenek moyang.

Fatimah (16/10/2017) adalah salah seorang masyarakat sasak yang memprihatinkan budaya nyongkolan ini. 
“prosesi nyongkolan adalah tradisi sakral. Bertujuan untuk mendapat ridha sang pencipta.” Ujarnya.

“Dulu nyongkolan sangat menjunjung tinggi nilai-nilai agama. Nyongkolan bukan sebagai ajang hiburan semata.”lanjutnya.
Ia membandingkan budaya nyongkolan dulu dengan budaya nyongkolan yang sekarang.
“tradisi nyongkolan bukan hal yang dilakukan dengan sembrono. Setiap langkahnya memiliki makna. Peserta iringan harus mengenakan pakaian khas suku sasak. Dedare-dedare (perempuan) menggunakan baju lambung dan kebaya, kereng nine (kain songket ), sanggul, anting, dan lainnya sedangkan terune mengenakan baju model jas, berwarna hitam yang disebut dengan tegodek nongkeq, kereng seleweq poto (sarung tenun panjang khas lombok) serta sapuk (ikat kepala).Posisi atau urutan dalam nyongkolan yang sebenarnya adalah tetua (orang-orang yang dihormati di daerah itu), pengiring, pengantin perempuan, pengiring, pengantin laki-laki, pengiring, dan pengiring yang membawa alat-alat musik. Pengiring membawa beberapa benda seperti hasil kebun, sayuran, maupun buah-buahan. Musik yang digunakan adalah alat musik tradisional seperti rebana, gendang beleq dan lainnya. Berbeda dengan sekarang, adat nyongkolan bisa dikatakan melenceng dari nilai moral agama serta adat yang berlaku. Nyongkolan acap kali memgundang konflik. Seiring perkembangan zaman, semuanya telah berubah. Musik kecimol adalah pengiring. Pemuda-pemuda bergoyang mengikuti alunan musik dengan mengundang gairah bagi yang menonton. Ironisnya mereka juga mengkonsumsi minuman keras.”terangnya.
       H. Hasan pun menjelaskan hal yang sama. Di era modernisasi saat ini, budaya sasak terutama budaya nyongkolan sudah terkontaminasi oleh budaya barat. Nyongkolan bukan lagi sebagai ritual suci tetapi sebagai ajang hiburan (16/10/2017).
          Mari lestarikan budaya baik budaya indonesia maupun budaya daerah. Kita sebagai generasi muda harus bangga dengan budaya yang ada. Berperan penting agar budaya kita tetap terjaga, sangat bergantung individu di dalamnya. Mencintai adalah salah satu cara melestarikan budaya, dengan mencintai kita akan merasa memiliki, bertanggung jawab dan rela melakukan yang terbaik. Mari berusaha agar budaya kita tetap terjaga, menawan, tidak terhapus oleh abad dan zaman, bahkan lebih indah di mata dunia. Oleh karena itu, kita generasi muda wajib melestarikannya sebagai apresiasi kepada leluhur. Jangan takut dikatakan “tidak gaul” semua itu kembali kepada diri sendiri.

36 komentar:

  1. Menambah referensi
    Kembangkan da

    BalasHapus
  2. Bagus, menambah pengetahuan tentang budaya nyongkolan

    BalasHapus
  3. Setuju .

    "Orang tanpa pengetahuan tentang sejarah masa lalu, asal usul, dan budaya mereka seperti pohon tanpa akar"

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya benar sekali saudara randy.
      Mari kita lestarikan budaya yang sdah mndarah daging dlam keh.masyarakt kita 😊
      Terimaksih kunjungannya. Jgn kapok yah

      Hapus
    2. Iya benar sekali saudara randy.
      Mari kita lestarikan budaya yang sdah mndarah daging dlam keh.masyarakt kita 😊
      Terimaksih kunjungannya. Jgn kapok yah

      Hapus
  4. Terima ksih atas infonya, sangat tersentuh dengan tema mencintai adalah cara melestarikan budayanya :-), di zaman modrn /zaman now biasanya banyak pemuda yg meninggalkan budaya bahkan menhapusnya dengan budaya barat yg "menyimpang". Dengan adanya blog ini dapat menambah kecintaan kita terhadap budaya...sangat mengisfirasi.

    BalasHapus
  5. Indahnya tulisan dan isinya. Sangat bermanfaat 💓

    BalasHapus
  6. meskipun beda budaya tidak ada salahnya mempelajari budaya orang lain. good bu guru

    BalasHapus
  7. terimaksih sudah mencintai budaya sasak

    BalasHapus

Piagam gumi sasak; mari generasi muda menjaga dan memelihara.

             Piagam gumi sasak hadir sebagai upaya para tokoh-tokoh baik itu tokoh budaya, tokoh agama, tokoh pendidikan maupun tokoh la...